Rindu ke Raudhah, Taman Surga di Masjid Nabawi

116

Oleh: Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I., Dai Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor

Jika kita ingin menghayati, menikmati, menangisi dan merindui taman surga, maka singgahlah di Raudhah (artinya taman), tempat antara makam/kuburan Nabi dengan mimbar khutbah Nabi.

Semula area Raudhah berada di luar Masjid Nabawi, atau tepatnya di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi di dalam masjid. Namun seiring perluasan Masjid Nabawi yang telah dilakukan beberapa kali, area itu saat ini berada di dalam masjid.

Raudhah tidaklah seberapa luas, dari arah timur ke barat sepanjang sekitar 22 meter dan dari utara ke selatan sepanjang sekitar 15 meter.

Namun, biarpun luasnya terbatas, ribuan jamaah, ratusan ribu rombongan umrah atau bahkan jutaan jamaah haji berbondong-bondong berdesak-desakkan ingin berziarah dan singgah walau sejenak di Raudhah, untuk merasakan suasana nikmatnya taman surga.

Begitulah, Saat itu ribuan jamaah berdesakan, saling himpit, berbagai manusia dari warna kulit yang hitam putih, merah, coklat berkumpul untuk tujuan yang satu, Raudhah. Tetapi walaupun demikian, tidak terjadi saling sikut apalagi saling melukai. Semua seperti pasrah menunggu gilirannya.

Tak terasa, terdengar isak tangis di kanan di kiri, di depan dan belakang, mengadu ke haribaan-Nya. Butiran air mata menetes satu demi satu, mengiringi pengakuan dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama ini.

Terbayang bagaimana dulu perjuangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama ratusan sahabatnya yang dengan segenap jiwa raga memperjuangankan dakwah Islam ini.

Terbayang bagaimana manusia-manusia pilihan Allah itu kulitnya berkeringat, panas terbakar padang pasir saat itu, berjalan ribuan kilometer dari Mekkah menuju Madinah, bahkan darah mengalir saat peperangan membela Islam.

Terbayang di mimbar itu, di tempat mulia itu, Nabi yang mulia, menyampaikan ayat-ayat-Nya dan hadits-haditsnya kepada para sahabatnya.

Seolah di sisi kanan kiri ada Abu Bakar Ash-Shiddiq yang jujur dan benar itu, ada Umar bin Khattab yang tegas dan pemberani, ada Ustman bin Affan yang penyantun dan dermawan, ada juga Ali bin Abi Thalib yang alim dan pandai itu, ada lainnya para sahabat yang tawadhu Abu Dzar al-Ghiffari, Salman Al-Farisi, Abu Hurairah, dan lainnya yang tidak dapat disebut satu per satu.

Sementara kita manusia saat ini, perjuangan belum seberapa, tidak sehebat mereka. Namun di sisi lain, masih banyak mengeluh, bahkan berbuat dosa dan maksiat.

“Astaghfirullaahal ‘adzim…”, itu saja kata-kata yang pantas diucapkan di tempat senikmat itu.

Begitulah syahdu mengharu biru berada di Taman Raudhah. Walau sejenak tapi bahagianya berketerusan sampai di tanah air, sampai kapanpun masih terasa. Bahkan getaran cinta itu mengundang kembali ingin ke tempat mulia itu kembali. Rindu berat Raudhah…

Yaa nabiyy salaam ‘alaika…

ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺑَﻴْﺘِﻰ ﻭَﻣِﻨْﺒَﺮِﻯ ﺭَﻭْﺿَﺔٌ ﻣِﻦْﺭِﻳَﺎﺽِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔ

“Area diantara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga”. (H.R. Bukhari-Muslim).

www.alifarkhantsani.com

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.