Landasan Tarbiyah di dalam Al-Quran

109

Oleh: Ali Farkhan Tsani*

Al-Quran menginformasikan kepada kita banyak kosa kata baik yang berhubungan langsung maupun tidak yang erat kaitannya dengan istilah tarbiyah. Di antaranya:

1) QS Ali Imran 146

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّ۬ قَـٰتَلَ مَعَهُ ۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ۬ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَہُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٤٦)

Artinya: “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut-[nya] yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak [pula] menyerah [kepada musuh]. Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (QS Ali Imran: 146).

Ribbiyuna, artinya para pengikut yakni dari sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhannya (Allah), baik dari kelompok ahli fiqih, para ulama, para pengajar/pendidik maupun peserta didik

2) QS Ali Imran 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادً۬ا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَـٰكِن كُونُواْ رَبَّـٰنِيِّـۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ (٧٩)

Artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi [dia berkata]: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS Ali Imran : 79).

Proses tarbiyah di sini adalah mengkader generasi Robbani dengan prinsip mengajarkan (give) dan mempelajarinya (learn). Pribadi yang senantiasa memberi apa yang bisa ia beri, dan berkembang menjadi manusia sesuai tuntunan Allah, yang tertuang dalam Al-Quran. Kaum robbaniyyin ialah mereka yang mengajarkan Al-Qur’an (give) dan yang mempelajarinya (learn).

Memberi dulu baru nanti menerima. Kita berikan yang terbaik untuk kader2 anak2 kita, dengan aqidah, ilmu, wawasan, materi, dan semua sarana pendukungnya. Barulah kita bisa menerima hasilnya. Maka, jika hasilnya masih belum memadai, barangkali yang diberikan juga belum memadai pula.

Dan keunggulan kaum dhu’afa adalah ketaatan dan kerelaan yang luar biasa, seperti para sahabat Rasul pada awalnya adalah kaum dhu’afa. Sebutlah misalnya Bilal, Ammar, Abu Dzar, dll. Tidak ada lagi yang dipertimbangkan dari harta dan dunianya. Semua milik-Nya. Tinggal tergantung bagaimana mendidiknya, memberi didikan.

Semoga Allah mudahkan dan kembangkan terus Ma’had kita, milik umat Islam, yang hakikatnya milik Allah. Aamiin.

Astaghfirullaahal ‘adziim…

*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Pendidik, Da’i, Penulis dan Jurnalis. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842, atau email: [email protected] 

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.