Khutbah Jumat: Istiqamah di Jalan Kebenaran, Iman Setegar Karang

161

Oleh: Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I.,SQ.*

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْفَتَّاحِ الْعَلِيْمِ . الَّذِى خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيْمِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْوَحِدُ الْحَكِيْمِ . وَأَشَهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الرَّءُوْفُ الرَّحِيْمُ . اَللَّهُمَّ صَلِّوَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍالْكَرِيْمِ . اَلْمُنْزَلِ عَلَيْهِ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمِ . وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَتَوْارَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ . اَمَّابَعْدُ . فَيَاعِبَادَاللهِ . إِتَّقُوااللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ . وَاعْبُدُوااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ . وَاعْبُدُوااللهَ حَتَّى يَأْتِيَكُمُ الْيَقِيْنُ   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً أما بعد

Jamaah Jumat rahimakumullah

Marilah dengan penuh ketawadhuan diri di hadapan Allah, kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan cara menthaati-Nya dan tidak memaksiati-Nya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya, serta selalu mengingat-Nya dan tidak pernah melupakan-Nya.

Hadirin yang berbahagia

Dalam meniti kehidupan, dalam berusaha memperibadati Allah, dalam upaya ingin menjadi orang baik, orang shalih, selalu saja ada bahkan banyak hambatan dan godaannya. Itulah memang hidup sedemikian adanya, penuh dengan ujian untuk mencapai sebuah cita-cita kebaikan.

Karena itu untuk tetap menegakkannya, diperlukan keyakinan (iman) dan tidak kalah pentingnya adalah sifat dan sikap istiqamah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  memerintahkan kepada kita hamba-hamba-Nya untuk terus menjaga iman dan istiqamah itu dalam kehidupan sehari-hari.

Allah menyatakan di dalam ayat:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا اللّٰـهُ ثُمَّ اسْتَقٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Q.S. Fushshilat [41]: 30).

Imam Al-Baidhawi menyebut bahwa meneguhkan pendirian  atau istiqamah pada ayat tersebut mengandung makna teguh pendirian (tsabat) dalam iman, ikhlash dalam amal dan menunaikan seluruh hal yang menjadi kewajibannya.

Al-Qadhiy ‘Iyadh menambahkan, istiqamah bermakna mentauhidkan Allah, beriman kepada-Nya, berusaha semaksimal mungkin tidak menyimpang dari tauhidullah dan terus menjalankan kethaatan kepada-Nya hingga mati dalam keadaan seperti itu.

Jadi, istiqamah adalah suatu usaha menempuh jalan yang lurus (shiratal mustaqim) tanpa berbelok ke kanan dan ke kiri, tanpa menambah atau mengurangi, tanpa mempersulit atau menyepelekan, dengan mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, bagi Allah dan karena Allah, dan menjalankan kethaatan kepada Allah itu sesuai yang Allah syariatkan, baik dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan, serta tetaplah dalam keadaan thaat tersebut.

Allah menegaskan di dalam ayat:

فَاسْتَقِمْ كَمَآأُمِرْتَ وَمن تَابَ مَعَكَ وَلاَتَطْغَوْا

Artinya: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (Q.S. Hud [11]: 112).

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam memegang teguh iman dan istiqamah, memang syaitan selalu menggoda kita agar berbelok, berkurang, bermaksiat dan mengkufuri Allah. Godaan syaitan selalu saja mencoba memalingkan manusia dari istiqamah di jalan Allah, dari perjuangan menegakkan kalimatullah, dari menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.

Allah telah menyebutkan janji syaitan untuk menyesatkan manusia selamanya, dan ini menjadi kewaspadaan bagi kita orang-orang beriman.

قَالَ فَبِمَآأَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ {16} ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ {17}

Artinya: Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalanggi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,— Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (Q.S. Al A’raf[7]: 16-17).

Sehubungan dengan ayat ini, Imam Qatadah menjelaskan bahwa syaitan akan datang kepada manusia dari depan mereka adalah dengan mengabarkan bahwa tidak ada hari kebangkitan, surga dan neraka. Dari belakang mereka, dengan menghias perkara dunia dan mengajak manusia kepadanya. Dari kanan mereka, dengan membuat mereka menunda-nunda kebaikan dan dari kiri mereka dengan menghias kejahatan dan maksiat, mengajak manusia kepadanya dan memerintahkannya. Ia akan datang dari semua arah selain dari atas, karena ia tidak sanggup menghalangi seseorang dari rahmat Allah.

Ibnu Abbas menambahkan, yakni syaitan akan membuat samar urusan agama dengan mendatangkan syubhat, serta membuat manusia senang kepada maksiat, fitnah dan syahwat.

Begitulah kaum Muslimin semuanya,

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menyebutkan sebuah nasihat dalam sabdanya :

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِطُرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْإِسْلاَمِ فَقَالَ  :  تُسْلِمُ وَ تَذَرُ دِيْنَكَ وَ دِيْنَ آبَائِكَ وَ آبَاءِ آبَائِكَ  ؟  فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ  :  تُهَاجِرُ وَ تَدَعُ أَرْضَكَ وَ سَمَاءَكَ وَ إِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطُّوْلِ  !  فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْجِهَادِ فَقَالَ  :  تُجَاهِدُ فَهُوَ جُهْدُ النَّفْسِ وَ الْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَ يُقْسَمُ الْمَالُ  ؟  فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَ مَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَ إِنْ غَرَقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَ إِنْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ. ‌

Artinya: “Sesungguhnya syaitan duduk pada anak Adam di semua jalannya. Syaitan duduk di jalan Islam dan berkata, “Apakah kamu akan masuk Islam sehingga kamu meninggalkan agamamu sebelumnya, agama bapakmu, dan agama nenek moyangmu?” Ia (anak Adam) itu tidak mau menaati syaitan dan akhitnya tetap masuk Islam. Lalu syaitan duduk di jalan hijrah dan berkata, “Apakah kamu akan berhijrah dan meninggalkan tanah airmu, padahal orang yang berhijrah itu seperti kuda yang menempuh perjalan panjang?” Ia tidak mau menaati syaitan dan tetap berhijrah. Lalu syaitan duduk di jalan jihad dan berkata: “Apakah kamu akan berijhad yang melelahkan jiwa dan mengorbankan harta, kamu berperang dan bisa terbunuh sehingga isterimu dinikahi orang dan hartamu dibagi-bagikan?” Namun ia tidak mau menaati syaitan dan tetap berjihad. Orang yang melakukan demikian, Allah akan memasukkannya ke surga, orang yang terbunuh (dalam jihad), Allah akan memasukkannya ke surga dan jika ia tenggelam, Allah akan memasukkannya ke surga, dan jika ia terlempar oleh binatang tunggangannya (sehingga meninggal), maka Allah akan memasukkanya ke surga.” (H.R. Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Itulah sikap istiqamah, berpegang teguh pada prinsip, setegar karang tak goyang dihempas gelombang air yang menerpanya.

Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa membaca doa pada pagi dan sore hari, meminta kepada Allah perlindungan-Nya, di antaranya dengan doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اَلْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَ اَلْعَافِيَةَ فِي دِينِي, وَدُنْيَايَ, وَأَهْلِي, وَمَالِي, اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي, وَآمِنْ رَوْعَاتِي, اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ, وَمِنْ خَلْفِي, وَعَنْ يَمِينِي, وَعَنْ شِمَالِي, وَمِنْ فَوْقِي, وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ‘afiyat (penjagaan) kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu maaf dan ‘afiyat baik dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah cacatku, tenangkanlah rasa takutku. Ya Allah, jagalah aku dari depan dan belakangku, dari kanan dan kiriku serta dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan sampai ada yang menghantamku secara tiba-tiba dari bawahku.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).

Marilah hadirin yang berbahagia,

Kita tetap jaga iman dan istiqamah kita dalam menunaikan ibadah dan kewajiban kita semua, tetap istiqamah di jalan yang lurus, di jalan Allah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-An’am [6]: 153).

Untuk itu, marilah ketika kita merasakan dalam keadaan berpaling dari syariat Allah, maka syaitan akan segera mendorong kita untuk bermalas-malasan sampai akhirnya kita meninggalkan kewajiban dan bahkan melakukan perkara yang haram.

Syaitan pun akan terus membuat kita lalai, sehingga putuslah hubungannya dengan Allah, seperti meninggalkan shalat berjama’ah, membaca Al-Quran, berdoa, meninggalkan amanah, dan jihad di jalan-Nya. Hingga akhirnya syaitan pun meninggalkan kita dalam keadaan binasa di hadapan Allah Sang Pencipta alam semesta. Na’udzubillahi min dzalika.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ

*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir Al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Da’i/Muballigh dan Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency). Tinggal di Kompleks Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected] 

Sumber: mirajnews.com

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.