Kesederhanaan Khalifah Umar bin Khattab (2)

177

Diulas Kembali Oleh: Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ.*

Khalifah Umar bin Khattab, Pemimpin umat yang kekuasaan wilayahnya  meliputi Timur dan Barat, tidak saja di kenal sebagai Khalifah yang berwibawa, tapi juga sederhana dan merakyat. Untuk mengetahui keadaan rakyatnya, Umar tak segan-segan menyamar jadi rakyat biasa.

Ia sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenalinya bahwa ia sesungguhnya Khalifah. Kalau ia menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan.
Khalifah Umar sadar, apa yang ada di tangannya saat itu bukanlah miliknya melainkan milik rakyat/umat, yang harus dipertanggungjawabkannya kepada Allah. Untuk itu, Khalifah Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya dan bermegah-megahan.
Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Karena saking hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga saja Amirul Mukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak itu baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.
“Anak-anakku, lebih baik kita bicara dalam gelap. Sebab, minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu ini milik rakyat!” sahut Khalifah ketika anaknya ingin bicara di tengah malam.
Dalam hidupnya, Khalifah Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan di pundaknya. Pribadi Khalifah Umar yang begitu mulia terdengar di mana-mana. Seluruh warga sangat menghormatinya. Dsan rupanya, cerita tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negeri tetangga. Sang Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Khalifah Umar.
Maka, pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk mengawalnya berkunjung ke Kota Madinah tempat Khalifah Umar tinggal. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan salkran air di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.
“Wahai Saudaraku!” seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya. “Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan singgasana Umar?” tanyanya kemudian. Lelaki itu segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat.
“Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?” si penggali parit balik bertanya.
”Ya, Umar bin Khattab pimpinan umat Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani itu,” kata raja. Lelaki penggali parit itu tersenyum.
“Tuan salah terka. Umar bin Khattab pemimpin umat Islam itu sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang Tuan duga. Ia orang biasa seperti saya juga,” terang si penggali parit,”.
“Ah benarkah? Mana mungkin pemimpin umat Islam yang terkenal agung seantero jazirah  itu tak punya istana?” raja itu mengerutkan dahinya.
“Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya,” sahut penggali parit itu.
Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju “istana” Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilakannya duduk. Penggali parit itu pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu.

“Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!”kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. “Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar bin Khattab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!”
Hah?!” Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikitpun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana untuk seorang Khalifah.
Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil mengacungkan pedangnya.
“Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!” ancamnya melotot.
Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri. ”Di sini tidak ada warga yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar,” kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.
Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan “istana” Umar itu. Lalu muncullah beberapa orang dan pengawal dengan membawa jamuan, dan menjamu mereka dengan sambutan kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.
“Benarkah ini istana Umar?” tanyanya pada pengawal tuan rumah.
“Betul, Tuanku, inilah istana Umar bin Khattab,” jawab salah seorang dari mereka.
“Baiklah,” katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan itu.
“Tapi, di manakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!” ujar Sang Raja.
Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja. ”Yang duduk di hadapan Tuan itu adalah Khalifah Umar bin Khattab” sahut pelayan itu.
“Hah?!” Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula para pengawalnya.
“Jadi, Anda Khalifah Umar itu…?” tanya raja dengan tergagap, menatap lelaki itu.
Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah.
“Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!” ujarnya dengan tenang.
Kemudian raja itu pun langsung menubruk Khalifah Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Khalifah Umar.
Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit dan membersihkan saluran air seorang diri di pinggir kota.
Sejak itu, Sang Raja pun selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.
Subhaanallaah….
*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Da’i/Muballigh dan Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency). Tinggal di Kompleks Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842, Twitter: @alifarkhantsani, FB/Instagram: Ali Farkhan Tsani,  atau email: [email protected] 
BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.