Keimanan pada Isra Mi’raj

149

Oleh : Ali Farkhan Tsani*

Pengantar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra [17]  : 1).

Ayat ini berkaitan dengan salah satu mu’jizat Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu berupa Isra dan Mi’raj. Sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Peristiwa nyata yang benar-benar telah terjadi dan kita sebagai umat Islam yang mengimani ayat-ayat Al-Quran.

Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam karena pada peristiwa ini, Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan untuk umat Islam, berupa kewajiban mendirikan shalat fardhu lima waktu sehari semalam.

Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Mekkah sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hijrah ke Madinah, yaitu setahun sebelum hijrah. Menurut sebagian ulama, terjadi pada malam tanggal 27 Rajab (tahun 621 M.).

Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada dalam situasi tekanan dan hinaan yang kuat dari kelompok musyrikin Mekkah, terutama dari Abu Jahal, Abu Lahab, dan sekutunya. Sementara ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baru saja ditinggal wafat isterinya tercinta Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela dan pendukung utama perjuangan dakwahnya.

Pada saat beriringan, beliau juga baru saja berduka karena meninggalnya Abu Thalib pamannya yang selama ini turut menjadi tameng pembelanya. Itulah tahun duka cita atau disebut dengan ‘amul hazn’.

Mu’jizat Isra

Mu’jizat Isra, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diperjalankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari Masjid Al-Haram di Mekkah hingga ke Masjid Al-Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Jarak tempuh  yang dilalui beliau sekitar 1.500 km.

Masjid Al-Haram tempat start Isra adalah nama yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, disebut juga dengan Baitullah, terletak di Mekkah, negeri yang diberkahi dan menjadi petunjuk semua manusia. Mekkah disebut juga dengan “Ummul Qura” (induk negeri).

Tentang Ummul Qura’ ini pada ayat disebutkan:

وَهَـٰذَا كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ مُبَارَكٌ۬ مُّصَدِّقُ ٱلَّذِى بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَا‌ۚ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأَخِرَةِ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦ‌ۖ وَهُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ يُحَافِظُونَ (٩٢)

Artinya: “Dan ini [Al Qur’an] adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang [diturunkan] sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada [penduduk] Ummul Qura [Mekah] dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya.” [Al Qur’an], dan mereka selalu memelihara sembahyangnya”. (Q.S. Al-An’am [6]: 92).

Sedangkan Masjid Al-Aqsha tempat singgah Isra sebelum Mi’raj ke langit, adalah nama yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala terletak di Palestina.

Dua masjid inilah, yakni Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha, merupakan dua bangunan tempat ibadah yang mula-mula Allah Subhanahu Wa Ta’ala letakkan di muka bumi ini.

Di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam disebutkan : Artinya : “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Beliau bersabda, “Al-Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Kemudian Al-Masjid Al-Aqsha”. Berkata Abu Mu’awiyah “Yakni Baitul Maqdis” . Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun”. (H.R. Ahmad dari Abu Dzar).

Pondasi Masjid Al-Aqsha diletakkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak jaman Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Dalam kurun waktu sekian lama, bangunan itu rusak dan runtuh dimakan waktu. Areal tanah sekitar Masjid Al-Aqsha juga termasuk ke dalam kawasan masjid tersebut. Sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihis Salam shalat di tanah itu, bagian dari Masjid Al-Aqsha.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyebutkan, Masjid Al-Aqsha dibangun kembali di atas pondasinya oleh cucu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Ya`qub bin Ishaq bin Ibrahim. Keturunan berikutnya, Nabi Daud ‘Alaihis Salam membangun ulang masjid itu. Bangunan Masjid Al-Aqsha diperbaharui oleh putera Nabi Dawud ‘Alaihis Salam, yaitu Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam (tahun 960 SM).

Mereka para nabi Allah membangun kembali Masjid Al-Aqsha adalah untuk tempat ibadah mendirikan shalat di dalamnya, bukan mendirikan kuil sinagog seperti yang diklaim Zionis.

Mu’jizat Mi’raj

Mu’jizat Mi’raj, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dinaikkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari Kubah Ash-Shakhrah (kawasan kompleks Masjid Al-Aqsha) ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi di langit.

Di Sidratul Muntaha beliau mendapat perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kewajiban shalat fardhu lima waktu sehari semalam. Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.

Meyakini peristiwa Isra Mi’raj adalah bukti keimanan umat Islam akan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, wujud ketakwaan kepada Allah Subahanhu Wa Ta’ala, serta kecintaan kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ditinjau dari angka fisik, jarak Masjid Al-Haram Mekkah hingga Masjid Al-Aqsha Palestina adalah sekitar 1.500 km. Menurut perhitungan, perjalanan darat berkendaraan unta waktu itu, antara Mekah ke Palestina, diprediksi memakan waktu sekurang-kurangnya dua bulan lamanya. Namun, bukti keimanan itu ternyata dikuatkan oleh perkembangan zaman yang sedemikian pesat saat ini.

Di mana umat manusia pada masa kini telah terbiasa menikmati perjalanan jarak jauh dengan menggunakan pesawat super canggih hanya dalam hitungan jam, kadang tidak perlu satu malam. Maka secara ilmu pengetahuan pun mustahil tidak mempercayai peristiwa perjalanan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tentang peristiwa Mi’raj ke Sidratul Muntaha ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan:

أَفَتُمَـٰرُونَهُ ۥ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ (١٢) وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ (١٣) عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ (١٤) عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ (١٥) إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧) لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ (١٨)

Artinya: “Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? (12) Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu) di Sidratil Muntaha. (14) Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (15) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (16) Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (17) Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (18). (Q.S. An-Najm [53] : 12-18).

Adapun “Sidratul Muntaha” secara harfiah berarti “tumbuhan sidrah yang tak terlampaui”, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang maha mengetahui hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidratul Muntaha itu. Kita sebagai mukmin tinggal meyakini kebenarannya serta mengimaninya.

Ibnu ‘Abbas menyebutkan, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan rangkaian ujian keimanan seseorang terhadap kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pada peristiwa Isra Mi’raj, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengimami para Nabi. Sebagaimana disebutkan di dalam al-hadits, “Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama’ah  para nabi. Adapun  Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu’ah. Dan ada pula ‘Isa bin Maryam ‘Alaihis Salam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim ‘Alaihis Salam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka”. (H.R. Muslim).

Mengambil ibrah dari mu’jizat Isra-Mi’raj, menambah keimanan kita, dan mu’jizat dalam arti keajaiban-keajaiban dalam kapasitas kita. Insya-Allah akan terus berlangsung, manakala kita memperhatikan hasil Mi’raj yaitu shalat.

Dirikan shalat di manapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Insya-Allah. (sumber : mirajnews)

*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Pendidik, Da’i, Penulis dan Jurnalis. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842, atau email: [email protected] 

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.