Kajian Al-Baqarah 23-24, Tantangan Allah Membuat Semisal Al-Quran

172

Oleh: Ali Farkhan Tsani*

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 23).

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menantang kepada orang-orang musyrik, orang-orang munafik dan orang-orang kafir yang meragukan kebenaran Al-Quran dengan menyatakan : “Jika kamu sekalian masih ragu ragu tentang kebenaran Al-Quran dan menyatakan Al-Quran itu buatan Muhammad, maka cobalah membuat sebuah kitab yang serupa dengan Al-Quran, walaupun hanya satu surat saja.  Kalau benar Muhammad yang membuatnya, tentu kamu sanggup pula membuatnya karena kamu pasti sanggup melakukan segala perbuatan yang sanggup dibuat oleh manusia. Ajak pulalah penolong-penolong kamu, berhala-berhala yang kamu sembah, pembesar-pembesarmu, bersama-sama dengan kamu membuatnya karena kamu mengakui kekuasaan dan kebesaran berhala-berhala dan pembesar-pembesarmu itu.

Dalam ayat lain, Allah menegaskan tantangannya :

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu”, Katakanlah : “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (Q.S. Huud [11]: 13).

Pada permulaan surat Al-Baqarah ayat 2,  Allah telah menyatakan bahwa kitab suci Al-Qur’an itu tidak ada lagi keraguan padanya. Al-Quran adalah wahyu yang benar-benar datang dari Allah. Al-Quran adalah mu’jizat yang di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu, Al-Qur’an sebagai wahyu dan mu’jizat tidak akan dapat ditiru oleh siapapun, meskipun manusia  itu mengerahkan semua ahli sastera.

Tetapi dalam kenyataan, masih ada manusia yang memiliki keraguan terhadap kebenaran Al-Qur’an, bahkan mereka menyatakan bahwa Al-Quran itu hanyalah karangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Padahal beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak dikenal sebagai seorang yang sanggup menyusun rangkaian kata yang begitu tinggi mutunya atas kehendaknya sendiri, dan tidak pula terkenal sebagai seorang penyair yang sanggup menyusun rangkaian kata sastra.

Beliau adalah Nabi yang Ummi yang tidak bisa menulis. Sebagaimana Firman Allah :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ…..

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka….”. (Q.S. Al-A’raaf [7]: 157).

Allah juga menegaskan di dalam ayat:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Q.S. Al-Isra’ [17] : 88).

Pada ayat disebutkan:

نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا

Artinya: “Kami wahyukan kepada hamba Kami”.

Hamba kami yang Allah maksudkan ialah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, satu ucapan kehormatan tertinggi dan pembelaan atas diri beliau. Dan yang Allah turunkan itu adalah Al-Qur’an, yang tidak ada lagi keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Sudah terbayang selanjutnya bahwa masih ada saja manusia yang ragu-ragu, yang menyebabkan mereka menjadi munafik. Sehingga ada yang mulanya menyatakan percaya tetapi hatinya tetap ragu. Demikian pula orang yang kafir, tetap di dalam kekafirannya, keingkarannya terhadap Al-Quran. Maka, ditantanglah keraguan mereka itu dengan Surat Al-Baqarah ayat 23 ini.

Prof. Buya Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar menyebut ayat ini sebagai suatu tantangan (tahaddi).

Kala itu, pada jaman Mekkah ataupun di Madinah, tidak sedikit ahli-­ahli syair dan ada pula tukang mantra (kahin) yang dapat mengeluarkan kata-kata tersusun. Namun tidak ada satupun yang dapat menandingi Al-Qur’an. Bahkan sampai pada jaman berikutnya pun, banyak pujangga-pujangga besar. Namun, merekapun tidak sanggup mengadakan tandingan dari Al­Qur’an.

Dr. Thaha Husain, pujangga Arab yang terkenal dan diakui kesarjanaannya dan diberi gelar Doctor Honoris Causa oleh beberapa Universitas Eropa, sebagai Universitas di Spanyol, Italia, Yunani, yaitu sesudah dicapainya Ph.D. di Sarbonne, mengatakan bahwa bahasa Arab itu mempunyai dua macam sastra, yaitu prosa (manzhum) dan puisi (mantsur). Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukan prosa dan bukan pula puisi, tetapi ya Al-Qur’an, yang melebihi keduanya.

Dengan demikianlah maka bagi orang-orang beriman, semakin mendalami Al-Quran, semakin mempelajari sastra-sastranya dan tingkatan-tingkatan kemajuannya, akan semakin mengakui keistimewaan Al-Quran itu memang tak tertandingi. Serta semakin bertambah yakinlah bahwa memang tidak dapat dikemukakan satu suratpun untuk menandingi Al-Qur’an.

Al-Quran Tak Tertandingi

Selanjutnya Allah menyebutkan:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Artinya: “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 24).

Ayat ini menegaskan bahwa semua makhluk Allah tidak akan sanggup membuat tandingan terhadap satu ayat-pun dari ayat-ayat Al-Quran. Karena itu, hendaklah manusia memelihara dirinya dari api neraka dengan cara mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Quran.

Kalau sudah nyata tidak sanggup menandingi Al-Quran, dan memang selamanya tidak akan pernah sanggup, baik rangkaian kata ataupun makna yang terkandung di dalamnya, maka lebih baik tunduk dan patuh, dan menerima dengan tulus dan ikhlas.

Jangan dilanjutkan sikap keraguan terhadap kebenaran Al-Quran itu.  Karena meneruskan keraguan terhadap perkara yang sudah nyata kebenarannya, akibatnya hanyalah penderitaan, tentu nerakalah ujungnya yang terakhir. Neraka yang apinya dinyalakan dengan manusia dan batu, lalu manusia itu dihukum dimasukkan ke dalamnya bercampur dengan batu-batu itu yang oleh Allah disediakan bagi orang-orang suka menentang kebenaran.

Banyak di antara pemimpin-peminpin dan ahli sastra Arab kala itu yang mencoba, meniru dan menandingi Al-Qur’an. Bahkan ada yang mengklaim dirinya sebagai Nabi, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Thulaihah,  Habalah bin Ka’ab dan lain-lain. Akan tetapi mereka semuanya menemui kegagalan, bahkan mendapat cemooh dan hinaan dari masyarakat.

Sebagai contoh kata-kata Musailamah Al-Kadzdzab yang dianggapnya dapat menandingi sebagian ayat-ayat Al-Qur’an adalah:

يَا ضِفْدَعُ بِنْتَ ضِفْدَعَيْنِ، نَقِّيْ مَا تَنِقِّيْنَ، أَعْلاَكِ فِى الْمَاءِ وَاَسْفَلَكِ فِى الطِّيْنِ.

Artinya: “Hai katak anak dari dua katak, berkuaklah sesukamu, bahagian atas engkau di air dan bahagian bawah engkau di tanah”.

Seorang sastrawan Arab terkemuka, yaitu Al-Jahiz telah memberikan penilaiannya atas gubahan Musailamah ini dalam bukunya Al-Hayawan, “Saya tidak mengerti apakah gerangan yang menggerakkan jiwa Musailamah menyebut katak dan sebagainya itu. Alangkah kotornya gubahan yang dikatakannya sebagai ayat Al-Quir’an itu yang turun kepadanya sebagai wahyu.”

Ternyata memang mereka tidak sanggup menandinginya dan bahkan bungkam seribu bahasa menghadapi tantangan Allah itu.

Karena itulah maka kita kini membaca, memahami, dan mentadabburi Al-Qur’an, dan sekaligus dapat merasakan kemu’jizatannya, baik dari aspek bahasa maupun makna kandungannya.  Maka lebih baik kita tunduk dan patuh, dan menerima dengan tulus ikhlas Al-Quran.

Janganlah sampai dilanjutkan lagi sikap yang ragu-ragu itu. Karena meneruskan keraguan terhadap perkara yang sudah nyata, akibatnya hanyalah kecelakaan bagi diri sendiri. Jika kebenaran yang telah diakui oleh hati masih juga ditolak, artinya lebih memilih jalan yang lain yang justru membawa kesesatan. Kalau dipilih jalan sesat, tentu nerakalah ujungnya yang terakhir. Neraka yang apinya dinyalakan dengan manusia dihukum dimasukkan ke dalamnya bercampur dengan batu-batu. Na’udzubillahi min dzalik.

*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Da’i/Muballigh dan Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency). Tinggal di Kompleks Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842, Twitter: @alifarkhantsani, FB/Instagram: Ali Farkhan Tsani,  atau email: [email protected] 

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.