Kajian Al-Baqarah 14-16: Karakteristik Orang Munafiq, Bermuka Dua

164

Oleh: Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I.,SQ.*

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (١٤) اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (١٥) أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (١٦)

Artinya: “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka (pemimpin-pemimpin mereka), mereka mengatakan : “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (14). Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (15). Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”. (16). (Q.S. Al-Baqarah [2]: 16).

Ayat-ayat ini masih merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang ciri-ciri atau sifat-sifat orang munafiq. Dalam hal ini adalah bermuka dua. Yakni, jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman mereka menyatakan keislaman dan keimanannya. Namun, apabila mereka berada di tengah teman-temannya, pemimpin-pemimpinnya, kalangannya, komunitasnya, mereka pun mengatakan bahwa itu semua sebenarnya hanyalah untuk memperolok-olokkan orang-orang beriman, kaum Muslimin saja.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut itulah orang yang bermuka dua (al-wajhain) dan itu adalah manusia paling buruk, seperti disebutkan di dalam hadits:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

Artinya: “Manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Pada Surat Al-Baqarah ayat 14 disebutkan, “Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka…..”. Kata شَيَاطِين (setan-syaitan) adalah bentuk jamak dari kata  شَيْطان  (syaitan).

Kata “syaitan” berasal dari kata شطن artinya “jauh”. Segala sesuatu yang jauh dari haq (kebenaran) atau jauh dari rahmat Allah, jauh dari perintah tuhannya. Itulah maka orang-orang munafiq itu dikatakan syaitan, karena mereka sangat jauh dari petunjuk Allah, jauh dari kebaikan.

Jadi, syaitan itu mungkin berupa manusia atau bisa juga berupa jin, yang selalu berupaya menipu manusia agar melanggar aturan Allah, agar jauh dari Allah.

Allah menyatakan di dalam ayat :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ. (الأنعام : 112)

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (Q.S. Al-An’am [6]: 112).

Mereka orang-orang munafiq melakukan demikian, bermuka dua, karena bermaksud hendak memperolok-olok saja, mempermainkan orang-orang beriman.

Mereka mengatakannya dengan:

إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Artinya: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok”.

Demikianlah mereka hendak memperolok-olok orang-orang beriman, tapi kemudian Allah lah yang akan membalas perbuatan mereka, dalam ayat lanjutannya:

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Artinya: “Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka”.

Ibnu Jarir menjelaskan, demikian itulah balasan olok-olokan, celaan, dan tipu daya Allah  terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik. Balasan itu tidak lain disebabkan oleh berbagai kemaksiatan dan kekufuran yang mereka lakukan sendiri.

Terlebih pada hari akhirat nanti, Allah lebih-lebih akan membalas olok-olokan mereka. Seperti di dalam ayat:

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَآءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ

Artinya: “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (Q.S. Al-Hadiid [57]: 13).

Juga firman-Nya:

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا

Artinya: “Dan jangan-lah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka”. (Q.S. Ali Imran [3]: 178).

Pada ayat lain dikatakan:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah pun akan membalas tipuan mereka”. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 142).  

Padahal akibat dari penipuan itu, kembalinya tidak kepada siapa-siapa selain kepada diri mereka sendiri. Namun sayang karena kebodohan mereka yang sangat, jauhnya dari petunjuk, itu yang membuat mereka tidak menyadari kelakuannya.

Allah pun akan membiarkan orang-orang munafiq itu terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Allah membiarkan mereka bergelimang terus dalam kesesatan.

Pada ayat yang lain Allah berfirman :

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Artinya: “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat”. (Q.S. Al-An’am [6]: 110).

Memilih Jalan Kesesatan

Pada ayat berikutnya, Al-Baqarah ayat 16, Allah menegaskan:

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 16).

Mereka orang-orang munafik itu dengan sifat-sifat buruknya, lebih memilih jalan kesesatan dan hawa nafsu, menolak petunjuk dan jalan yang lurus. Pada akhirnya pilihan itu justru merugikan mereka sendiri karena mereka tidak mau lagi menerima kebenaran.

Pada ayat lain dikatakan:

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka Alangkah beraninya mereka menentang api neraka”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 175).

Begitulah, orang-orang munafiq itu membeli kekafiran dengan keimanan, membeli kesesatan dengan petunjuk. Sehingga  mereka tidak memperoleh apa-apa, bahkan hanya memperoleh kerugian, karena tidak mendapat petunjuk dan justru akan membawanya kepada siksa neraka. Demikian itulah kerugian yang sesungguhnya.

Jika diumpamakan seseorang membeli uang seratus ribu rupiah dengan harga satu juta rupiah, atau mengeluarkan modal usaha sejumlah satu juta rupiah misalnya, tapi tinggal tersisa seratus ribu rupiah tanpa keuntungan, itu tentu dianggap rugi. Lalu bagaimana dengan orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli kekafiran dengan keimanan dan membeli kesengsaraan dengan kebahagiaan, alangkah ruginya perdagangan itu.

Ibnu Jarir menjelaskan, dalam kesesatan mereka dan kekafiran mereka, mereka itu sebenarnya terombang-ambing, hatinya bingung, jiwanya gelisah, dan hidup sesat, tidak menemukan jalan keluar. Itu karena memang Allah  telah mengunci-mati hati mereka dan telah membutakan pandangan mereka dari petunjuk ilahi. Sehingga tertutup pandangan mereka, mereka tidak dapat melihat petunjuk dan tidak dapat menemukan jalan keluar, walaupun mata mereka melihat, tetapi hati mereka buta.

Allah menyebut di dalam ayat:

فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya: “Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 46).

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk,” dalam tafsirnya, as-Suddi, dari Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat RasulullahShalallahu ‘alaihi wa sallam , mengatakan: “Mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk.”

Ibnu Ishak mengatakan, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya ini: “Artinya membeli kekufuran dengan keimanan.”

Begitulah sifat munafiq, bermuka dua di dalam hidup, dan ini akan lebih berbahaya manakala jika ada di dalam shaf perjuangan. Sebab, orang-orang munafiq ini adalah musuh dalam selimut, yang selalu menggunting di dalam lipatan, bermain di air keruh, menelikung kawan seiring, bermain genderang suka cita di atas penderitaan orang lain, yang sulit dideteksi dan dibuktikan.

Dalam sejarah Islam tercatat, bagaimana perilaku bermuka dua dari orang-orang munafiq tersebut. mereka yang mengaku beriman manakala mereka bersama-sama dengan kaum mukminin. Namun, ketika kembali kepada kelompoknya, mereka kembali lagi kepada kekufurannya bahkan membocorkan rahasia kekuatan umat Islam. Mereka ini lebih berbahaya daripada orang kafir yang jelas-jelas menampakkan kekafirannya.

Maka terhadap mereka yang memiliki sifat bermuka dua, tidak dapat dijadikan pemimpin dan bagian dari perjuangan Islam. Seperti Allah mengingatkan di dalam ayat:

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَـٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً۬ (١٤٢) مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٲلِكَ لَآ إِلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ‌ۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ ۥ سَبِيلاً۬ (١٤٣) يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡڪُمۡ سُلۡطَـٰنً۬ا مُّبِينًا (١٤٤) إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا (١٤٥)

Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin, kepercayaan, pembela) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”. (Q.S. An-Nisa [4]: 142-145).

Semoga kita terhindar dari sifat-sifat munafiq yang demikian. Aamiin.

Referesi Utama: Al-Quran dan Terjemahnya DEPAG RI, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Azhar HAMKA.

*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Da’i/Muballigh dan Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency). Tinggal di Kompleks Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842, Twitter: @alifarkhantsani, FB/Instagram: Ali Farkhan Tsani,  atau email: [email protected] 

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.