Jangan Remehkan Kekuatan Doa

149

Oleh: Ali Farkhan Tsani (Afta)

Suatu ketika seseorang berdoa dengan angkat tangan selesai shalat. Seorang Imaam menyuruh stafnya memanggil orang tersebut. Lalu dijawab, ”Maaf Imaam, orangnya sedang berdoa”.

Kata Imaam, “Jangan diganggu, biarkan sampai selesai doanya, dia sedang munajat pada Tuhannya, juga Tuhan kita”.

Jangan remehkan dan sepelekan untaian doa seseorang, atau orang ke orang lain. Misalnya ada saudara kita mau pergi umrah, maka kita doakan dan kitapun minta didoakan di sana. Atau walau sekedar meng-“Aamiin”-kan. Dan jangan putus pembicaraan sekitar doa itu. Berarti memutus orang-orang yang sedang senang meminta kepada Allah. Memutus ibadah hamba-hamba-Nya. Padahal mungkin saling berbagi berkirim doa itu setahun atau seumur hidup sekali.

Atau kadang kita malas walau hanya sekedar meng-“Amin”-kan doa sang imam masjid, sang khatib atau siapun yang sedang memimpin doa dalam suatu acara. Pada dia sedang mengharap kepada Sang Rabb. Lalu kita tak butuh Rabb?

Apa yang dinanti dari orang yang akan pergi jauh dari saudaranya? “Doa”. Bukan harta benda.

Apa pula yang diharapkan dari orang sakit dari penjenguknya? “Doa”. Bukan makanan enak.

Apa yang dikerjakan orang yang dirundung masalah? “Doa”. Bukan jalan-jalan.

Padahal Sang Nabi sudah menyatakan bahwa “Doa adalah pedangnya orang beriman”, dan bahwa “Doa adalah intinya ibadah”.

Dalam susunan acara kegiatan, juga sering pada bagian akhir selalu ada acara Doa. Karena memang begitu urgensinya doa. Bukan sekedar seremonial. Kadang yang menganggap sepela, tidak perlu doa, khan sudah cukup.

Padahal, seorang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun tatkala sahabatnya Umar bin Khattab hendak pergi umrah, beliau minta didoakan.

Imaam pun demikian seringkali meminta makmumnya untuk membacakan doa setelah selesai shalat. Setiap selesai acara pun, Imaam selalu meminta salah seorang asatidz untuk membacakan doa, agar hasil acara tersebut mendapat barokah dari Allah.

Para Malaikat saja mengucapkan “Aamiin”… saat selesai Imaam membaca surah Al-Fatihah, dalam Shalat. Mengapa kadang kita sulit hanya sekedar mengucapkan “Aamiin” untuk doa-doa kebaikan saudara-saudara kita.

Mari saling berdoa dan mendoakan kebaikan-kebaikan sesama kita, dan saling meng-“Aamiin“-kan. Doa-doa di antara kita. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.