Hubungan Makkah, Yaman Dan Palestina

275

Oleh: Ali Farkhan Tsani*

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam Surat Quraisy ayat 1-2:

لِإِيلَـٰفِ قُرَيۡشٍ (١) إِیلَـٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِ (٢)

Artinya: “Karena kebiasaan aman tenteram kaum Quraisy (penduduk Makkah), (yaitu) kebiasaan aman tenteram perjalanan mereka (menjalankan perniagaan) pada musim dingin (ke negeri Yaman) dan pada musim panas (ke negeri Syam).” (QS Quraisy [106]: 1-2).

Kaum Quraisy pada umumnya adalah para saudagar, mereka biasa melakukan perjalanan perniagaan maupun keperluan lainnya.

Sejak lama sebelum Islam, mereka telah menghubungkan kedua negeri itu. Syam di utara adalah pintu perniagaan yang akan berlanjut sampai ke Laut Tengah dan ke negeri-negeri sebelah Barat. Sementara Yaman di selatan membuka pula jalan ke Timur sampai ke India, bahkan lebih jauh lagi sampai ke daratan Tiongkok.

Ahli Tafsir, Ibnu Katsir, menjelaskan tentang dua ayat pertama dari Surat Quraisy, bahwa kaum Quraisy memiliki kebiasaan melakukan perjalanan dagang pada musim dingin  ke negeri Yaman (arah selatan Makkah) dan pada musim panas  ke negeri Syam (arah utara Makkah).

Negeri Syam (bilaadu asy-Syaam) adalah sebuah kawasan negeri Muslim yang membentang di antara timur Laut Mediterania, barat Sungau Eufrat, utara Gurun Arab dan selatan Pegunungan Taurus. Kini meliputi negara-negara : Lebanon, Palestina, Suriah dan Jordania.

Kedua kawasan tersebut, yakni Yaman dan Syam, pernah didoakan oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam agar menjadi daerah yang diberkahi.

Maka, dengan perjalanan niaga itulah kemudian Allah melimpahkan rezeki bagi mereka, meskipun negeri mereka padang pasir dan batu yang tandus dan kering. Allah juga melimpahkan rasa aman dari ketakutan di dalam negeri maupun di luar negeri mereka karena adanya Ka’bah.

Mufassir lainnya, Al-Qurthubi, menuliskan pendapat Mujahid dan Ibnu Abbas, bahwa ayat ini mengingatkan kepada kaum Quraisy tentang nikmat Allah bagi mereka, yaitu ketenangan menjalankan aktivitas niaga tanpa harus terganggu hal-hal lainnya.

Negeri Penuh Berkah

Al-Quran menyebut sepanjang jalur Syam-Makkah-Yaman merupakan negeri-negeri yang Allah berikan keberkahan bagi penduduk dan alam sekitarnya.

Seperti di dalam ayat dikatakan:

وَجَعَلۡنَا بَيۡنَہُمۡ وَبَيۡنَ ٱلۡقُرَى ٱلَّتِى بَـٰرَڪۡنَا فِيہَا قُرً۬ى ظَـٰهِرَةً۬ وَقَدَّرۡنَا فِيہَا ٱلسَّيۡرَۖ سِيرُواْ فِيہَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ 

Artinya : “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu perjalanan.Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan aman.” (Q.S. Saba [34] : 18).

Sebagai konsekwensi dari perjalanan dagang di kawasan penuh berkah itu, maka berabad-abad berlangsung hubungan erat dan bersaudara antara negeri-negeri tersebut untuk saling bertanggungjawab atas keselamatan para kafilah demi kesinambungan perjalanan dagang itu.

Itulah bukan sekedar hubungan dagang, tapi ikatan persaudaraan yang memberikan suasana aman yang memadai, penuh persahabatan, persatuan dan kesatuan.

Kedudukan ini menjadikan bangsa Quraisy sebagai rujukan bangsa Arab bila menghadapi persoalan-persoalan penting. Hal ini terlihat pula saat diutusnya Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Rasul dan Nabi penutup, di mana bangsa Arab meresponnya dan secara berbondong-bondong masuk agama Allah.

Dengan demikian tidaklah heran, bila kemudian Allah mengistimewakan kedua wilayah tersebut, pada saat menjelaskan peran ekonomis dan logistik bagi kemudahan kedatangan risalah Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam.

Tidaklah aneh pula ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam juga mengkhususkan doa bagi penduduk Syam (termasuk Palestina di dalamnya) dan Yaman, agar mendapatkan keberkahan karena hubungan erat antara dua tempat berkah tersebut dengan kota Mekkah dan Madinah.

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk keberkahan negeri-negeri di kawasan Syam dan Yaman dalam doanya,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

Artinya : “Ya Allah, berkahilah kami di negeri Syam kami, Ya Allah, berkahilah kami di negeri Yaman kami.” (H.R. At-Tirmidzi).

Akulturasi

Hubungan erat antarpenduduk ketiga wilayah itu, jalur Syam-Makkah-Yaman, dipererat dengan kedatangan agama Islam, menjadi sejarah perubahan menyeluruh pada sistem kehidupan manusia, baik dari segi spiritual, sosial, maupun sastra dan budaya. Perubahan tersebut tidak hanya terbatas bagi bangsa Arab saja, namun mencakup seluruh bangsa yang tersentuh oleh dakwah Islam, sehingga bangsa tersebut tersinari oleh cahaya dan keutamaan iman.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam lahir pada suatu lingkungan yang memiliki budaya dan nilai tertentu. Maka kemudian berhubungan dan berakulturasi dengan budaya sekitarnya. Maka, kedatangan cahaya Islam yang datang dari Allah Sang Maha Pencipta alam semesta, datang untuk membatalkan seluruh nilai yang tidak sesuai ajaran-Nya yang tinggi. Namun tetap mempertahankan hal-hal yang sejalan dengan-Nya.

Budaya Arab yang dicelup dengan nilai-nilai Islam, kemudian terhubung dengan budaya Yaman, yang merupakan suku besar dan terkemuka di selatan Mekkah. Penduduknya memiliki kecerdasan dan kemampuan bersosialisasi yang baik dalam bidang perdagangan dan diplomasi. Sebelum suku-suku lain memiliki hubungan dengan banyak suku di Jazirah Arab, suku Yaman telah memiliki hubungan dagang yang baik dengan Mesir dan daerah lain di kawasan Teluk.

Sementara suku Adnan adalah suku besar dan terkemuka di wilayah Makkah, merupakan penguasa jalur dan daerah sekitarnya, baik di bidang perekonomian, kesusastraan dan bahasa. Suku Adnan ini merupakan cikal bakal ataupun nenek moyang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menguasai air zam zam di wilayah Makkah.

Lambat laun Yaman mengalami kemajuan pesat dalam perekonomian disebabkan eratnya hubungan perdagangan dengan Makkah. Sementara pada sisi lain, dengan majunya perekonomian Yaman berdampak pada kemajuan bidang sosial budaya akibat akulturasi kebudayaan dengan Mekkah. Menjadilah hubungan erat dua saudara dan keluarga besar, Yaman-Makkah (Arab Saudi).

Demikian pula hubungan Makkah-Syam, terutama kawasan Palestina. Sejak awal Islam, Masjid Al-Aqsha di kawasan Al-Quds, Palestina, merupakan kiblat pertama umat Islam. Hubungan aqidah ini diperkuat dengan pertalian Isra Mi’raj, yang menghubungkan Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha dalam dimensi ruang, waktu dan iman.

Akulturasi risalah Islam dengan penduduk di kawasan Palestina pun terjadi dengan dikirimnya beberapa sahabat Nabi ke sana. Hingga Khalifah Umar bin Khattab datang ke kota tua Al-Quds, bersama serombongan sahabat utama yang telah lebih dulu sampai, seperti : Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Amr bin Ash, Abdurrahman bin Auf, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dll.

Kekuatan akulturasi itu menyatu dan semakin menguatkan hubungan persaudaraan dunia Arab, dalam bingkai Islam.

Hingga dikenallah budaya kuat di seluruh jazirah Arab, terutama di jalur lintas Syam (khususnya Palestina)-Makkah-Yaman, untuk saling melindungi, menjaga dan menolong. Hingga di sana terkenal dengan syair Arab, yang artinya: “Kami pada musim paceklik mengundang makan para tamu. Tidak terlihat dari kami yang menjadi fakir karena menjamu tamu”.

Bahkan, jika ada orang yang datang minta perlindungan, maka wajib dilindungi oleh sang tuan rumah.

Harapan Kini

Kini sangat memprihatinkan, bagaimana kaitan erat hubungan sejarah, bidaya, persaudaraan dan peradaban mulia nan tinggi bangsa-bangsa Arab, diuji dengan pertikaian regional.

Negeri-negeri mayoritas berpenduduk Muslim diadu domba dengan berbagai isu yang intinya memecah belah umat. Arab-Saudi-Yaman, kondisi Suriah, Irak, dan sekitarnya. Wabil khusus lagi nasib Palestina, bangsa terjajah abad modern ini, di tengah-tengah negara-negar kawasan jazirah Arab yang sejak dulu dipersaudarakan dalam jalinan Yaman-Makkah-Palestina (Syam).

Semoga makna dan hikmah Surat Quraisy ayat 1-2 menjadi ibrah dan pembelajaran kita semua, untuk kembali menyatukan dan mempersaudarakan umat Islam dalam satu Jama’ah Muslimin, mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah. Aamiin. (Sumber: mirajnews.com)

*Penulis, Pengasuh Lembaga Tahfidz Al-Quran Ar-Razzaq Depok, Jabar, Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Jabar, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)
Penulis dapat dihubungi melalui: [email protected] atau PH/WA: 082221427842

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.