Burkini Menurut Wanita Yahudi: Trendi dan Produk Resmi

267

Oleh: Ali Farkhan Tsani*

Di tengah isu perdebatan pelarangan burkini (pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh), Marci Rapp, seorang wanita Yahudi Israel, justru menyukainya karena dianggap sederhana dan trendi.

Dalam keterangannya di Times of Israel edisi Selasa (30/8) kemarin, Marci Rapp pendiri perusahaan pakaian renang MarSea Modest menyebut, “Kesederhanaan tidak boleh dibatasi, itu pilihan wanita.”

Menurutnya, jelas mereka tidak memiliki hak untuk melarang burkini, mereka tidak memiliki hak untuk mengatakan perempuan apa yang harus dipakai di jalanan atau di pantai, lanjut Rapp.

“Saya sering mendapatkan pelanggan dan mengatakan bahwa ia bukan religius, tetapi mereka ingin membeli pakaian renang sederhana,” tambah Rapp.

“Saya katakan, saya tidak menghakimi, wanita bisa menutupi apa pun yang mereka inginkan,” lanjutnya.

Rapp mengatakan, pakaian renang dapat mencakup berbagai gaya, mulai dari atasan panjang atau lengan pendek, gaun, celana pendek, rok, atau model lainnya.

Model burkini, menurutnya berguna tidak hanya untuk perempuan karena dorongan agamanya. Namun juga untuk wanita yang khawatir tentang kanker kulit, atau wanita yang tidak merasa nyaman dengan pakaian renang model bikini.

Dia juga memiliki sejumlah pelanggan yang ingin menjaga kesehatan, mencari pakaian renang yang memiliki model, ramah air, penutup kepala selama kemoterapi, atau menutupi bekas luka operasi.

Daniella Teutsch, pendiri perusahaan pakaian renang berbasis Israel lainnya, HydroChic, memperkirakan bahwa 50-60% dari pelanggannya adalah wanita ukuran besar yang tidak harus karena agama.

Pelanggan Wanita Yahudi

Pelanggan online HydroChic, menurut Daniella Teutsch, termasuk dari  wanita AS Yahudi, Kristen, dan beberapa wanita Muslim.

“Ini semua tentang pilihan, ini tentang tingkat kenyamanan,” kata Teutsch, yang mencatat bahwa “fashion sederhana”, termasuk pakaian renang, telah menjadi trendi baru-baru ini.

“Kami mendapatkan testimonial positif dari orang-orang yang mengatakan itu mengubah hidup mereka,” katanya.

Menurutnya, wanita dapat melakukan berbagai jenis olahraga air yang mereka tidak lakukan sebelumnya, seperti ski air, kano, terjun payung, scuba diving, dan lainnya.

“Mereka memiliki begitu banyak jenis orang-orang yang keluar dan menikmati air untuk berolah raga. Hal terbesar adalah bahwa kita mendengar orang-orang belum pernah ke pantai di tahun ini dan sekarang mereka akan pergi.”

Di kota-kota Israel, pakaian renang sederhana model burkini, dibanderol dengan harga 300 hingga 400 shekel (sekitar 1 sampai 1,4 juta rupiah).

Model ini dipasarkan untuk pelanggan sebagian besar Yahudi, wanita Arab dan komunitas ultra-Ortodoks.

Terutama di kalangan wanita ultra-Ortodoks, yang suka dengan pakaian tradisional, memilih pakaian renang sederhana menjadi lebih utama.

Isan, yang menolak untuk memberikan nama terakhir, pemilik toko pakaian wanita di Kota Tua Al-Quds, mencatat bahwa perempuan Yahudi religius mengatakan, merasa nyaman dengan pakaian renang yang menutupi tubuhnya.

Menurutnya, orang lain mungkin lebih memilih pakaian selam, beberapa wanita hanya mengenakan pakaian biasa, sementara yang lain ingin sesuatu yang ringan dan longgar untuk pergi ke pantai dengan anak-anak mereka.

“Kami juga menjual pakaian lain yang cocok untuk berenang, yang menjadi lebih populer bagi perempuan Muslim religius yang ingin mengenakannya saat ke pantai,” lanjutnya.

Bagaimana Biarawati?

Wanita-wanita Yahudi dan Arab di kawasan Al-Quds tidak setuju dengan ide larangan pemerintah pada jenis tertentu dari pakaian.

“Iman adalah hal pribadi, jika Anda percaya, maka itu adalah milik Anda,” kata Mahmoud, yang bekerja di toko pakaian.

Mahmoud ingin tahu apakah pemerintah Perancis telah mempertimbangkan hal spesifik lainnya, seperti bagaimana dengan biarawati Katolik, yang mengenakan pakaian tertutup? Apakah mereka harus melepasnya juga ketika mereka pergi ke pantai?

“Jika Anda membuat hukum, lalu dalam waktu lima atau enam tahun ke depan hanya akan ada perang agama, mungkin ada orang yang akan menghasut Anda orang dengan mengatakan, itu karena soal pakaian,” kata Mahmoud.

“Burkini belum tentu Islam,” tambah Isan, pemilik toko pakaian lain. “Ini hanya model praktis, mengenakan pakaian yang tidak transparan atau ketat”.

Manal Shalabi, seorang aktivis dan peneliti pekerjaan sosial feminis di Universitas Haifa, mencatat bahwa ada puluhan diskusi panjang tentang apakah “busana Islam” seperti jilbab, atau pakaian renang burkini, adalah membebaskan atau menindas perempuan Muslim?

Diskusi serupa juga terjadi di kalangan Yahudi mengenai gaun ekstra sederhana atau penggunaan penutup kepala dan wig untuk wanita yang sudah menikah.

Dia mengatakan bahwa sebagai seorang feminis Muslim sekuler, isu di Perancis juga mengingatkannya pada peraturan ekstrim yang berlawanan di Arab Saudi, di mana nantinya mungkin saja ada hukum berpakaian yang mengharuskan perempuan memakai penutup seluruh tubuh.

“Sebagai seorang feminis saya bisa saja menentang burkini, karena saya tidak suka bagaimana membatasi perempuan. Namun juga mengecam situasi yang memaksa seorang wanita untuk melepasnya,” kata Manal Shalabi.

“Ini adalah masalah ketika petugas keamanan meminta wanita untuk menanggalkan pakaian, mereka berusaha untuk mengendalikan hidup seseorang ketika dia bahkan tidak membahayakan siapa pun,” katanya.

“Dia hanya duduk di pantai, tidak masuk ke dalam ruang pribadi siapa pun. Itu benar-benar adalah merusak hak asasi manusia,” lanjutnya.

Shalabi menambahkan bahwa upaya politik Perancis menghadapi terorisme dan ekstremis telah berbelok arah dan mencoba untuk mengendalikan agama Islam, dengan menargetkan kelompok rentan, seperti imigran.

“Kekhawatiran terorisme adalah masalah yang sedang dihadapi Perancis, tapi ini bukan cara untuk mengatasinya,” kata Daniella Teutsch, pendiri perusahaan pakaian renang berbasis Israel, HydroChic.

“Saya tidak berpikir mengenakan burkini akan merusak keamanan pemerintah Perancis,” ujarnya.

“Saya akan mengatakan bahwa burkini hanya berkaitan dengan kenyamanan, belum tentu soal agama,” tambahnya.

Produk Resmi

Marci Rapp pendiri perusahaan pakaian renang MarSea Modest

ingin tahu bagaimana pemerintah Perancis akan memutuskan apakah burkini dilarang atau tidak.

Ia menyatakan, pakaian model burkini sebenarnya adalah merek dagang yang sudah terdaftar milik sebuah perusahaan Australia. Ini adalah jenis pakaian salah satu produsen pertama dari pakaian olahraga dan pakaian renang, yang awalnya diciptakan untuk anak perempuan Muslim religius yang ingin bermain olahraga.

“Dari mana mereka menarik kesimpulan? Jika hanya karena ukuran lengan sepertiga, lengan seperempat atau baju lengan panjang? ” tanyanya.

“Yang membedakan burkini dari pakaian renang sederhana lainnya adalah penutup kepala, dan itulah yang mengidentifikasi wanita pemakainya sebagai seorang Muslim. Ini ketakutan terhadap Islam, itulah apa yang terjadi,” imbuhnya.

“Hukum menjadi konyol, saya tidak tahu bagaimana mereka dapat menegakkan itu,” imbuhya. (afta)

Sumber: mirajnews.com/id

afta*Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I., Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shana’a, Yaman

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.