Berdoa di belakang Maqam Ibrahim dan Hijir Isma’il

200

Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ.*

Maqam Ibrahim

Maqam berarti tempat pijakan. Bukan kuburan. Maqam Ibrahim, dalam beberapa literatur dijelaskan merupakan batu yang dibawa Nabi Ismail yang digunakan untuk berdiri Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah. Di atas batu itulah Nabi Ibrahim membangun Ka’bah dengan tangannya sendiri, yang batu-batuannya dibawa Ismail.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke Maqam Ibrahim dan berdoa. Maqam Ibrahim adalah batu dari surga seperti halnya Hajar Aswad. Karena itu, siapa yang shalat di belakangnya doanya akan dikabulkan.

Maqam Ibrahim pun menjadi perhatian para pemimpin umat Muslim dunia. Dahulu, Maqam Ibrahim diletakkan dalam sebuah bangunan lemari perak yang pada bagian atas dibuatkan peti dengan ukuran 6 x 3 meter.

Hijir Ismail

Hijir Ismail, merupakan bangunan setengah lingkaran di sisi Ka’bah. Di situ dahulu Nabi Ibrahim menjadikan sebagai rumah kecil dari batang pepohonan yang diperuntukkan bagi Ismail dan ibunya, Hajar.

Kalau kita ingin shalat di dalam Ka’bah, dan itu tidak boleh kecuali atas undangan Raja. Maka, cukuplah shalat di dalam Hijir Ismail ini. Seperti yang pernah diriwayatkan Siti Aisyah, “Aku pernah minta kepada Rasulullah agar diberi izin masuk Ka’bah untuk shalat di dalamnya. Lalu, beliau membawa aku ke Hijir Ismail dan bersabda: Shalatlah di sini kalau ingin shalat di dalam Ka’bah karena Hijir Ismail ini termasuk bagian Ka’bah.”

Shalat di Hijir Ismail adalah sunah yang berdiri sendiri. Dalam arti tidak ada kaitan dengan tawaf atau umrah atau haji atau ibadah lainnya. Jadi, bisa dilakukan kapan saja. Di Hijir Ismail ini juga termasuk tempat mustajab untuk berdoa, terutama yang persis di bawah pancuran (mizab).

Dahulu, Nabi Ismail yang terkenal dengan kisah sumur zamzam yang fenomenal. Ketika itu, Ismail ditinggalkan berdua dengan Siti Hajar oleh suaminya, Ibrahim, di salah satu tempat di Makkah. Kala itu, Makkah merupakan wilayah tandus tak berpenghuni karena tidak ada sumber mata air. Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail karena harus melaksanakan perintah Allah.

Suatu saat, bekal kurma dan air yang ditinggalkan Nabi Ibrahim untuk istri dan anaknya habis. Si kecil Ismail terus menangis  karena dahaga. Siti Hajar yang tak tega melihat putranya dalam keadaan seperti itu menjadi kebingungan.

Hajar berlari ke puncak Bukit Safa dan Marwah dengan harapan bisa melihat orang yang melintas dan meminta pertolongan. Tapi, hingga tujuh kali berlari, pulang-pergi dari puncak Safa dan Marwah tidak juga ditemui orang yang melintas. Terkait kejadian itu, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda: Itulah (asal mula) sai yang dilakukan sekarang antara Safa dan Marwah.”

Terakhir, ketika kembali ke Bukit Marwah, Siti Hajar berdoa, “Berikanlah pertolongan kepadaku jika engkau mempunyai kebaikan.” Saat itulah terlihat malaikat Jibril.  Selanjutnya, malaikat Jibril mengais tanah dengan tumit kakinya. Tapi, dalam riwayat lain, disebutkan dengan sayapnya. Di tempat Jibril itu terpancarlah air. Demikianlah kisah sumber air zamzam. Yang bangunannya disebut dengan Hijir Ismail.

*Penulis, Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I,SQ. (Safiir Al-Quds, syahadah dari Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shan’a, Yaman), Da’i/Muballigh dan Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency). Tinggal di Kompleks Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor. Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected] 

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.