Aksi Bela Islam 212, Awalnya Pesimis Akhirnya Sepakat

210

Oleh : Ali Farkhan Tsani

Awalnya masyarakat pesimis dan sebagian lagi memandang sinis Aksi Bela Islam (ABI) Jilid III yang semula akan digelar 25 November, kemudian diubah 2 Desember (212). Apakah akan seperti aksi damai sebelumnya pada 4 November (411), yang disebut sebagai aksi bermartabat. Pro kontra pun berkecamuk di sebagian calon peserta aksi massa. Berangkat atau tidak?

Bagaimana tidak?  Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sendiri sempat menyebut, bahwa rencana aksi 2 Desember itu menyimpan agenda tersembunyi. Bukan lagi soal tuntutan proses hukum Ahok, melainkan sudah bernuansa politik.

“Kalau proses hukum Ahok sudah jelas, polisi sedang memproses dan secepatnya akan dilimpahkan ke kejaksaan,” ujar Kapolri seusai menghadiri dialog kebangsaan di Surabaya, Sabtu (19/11/2016).

Jenderal Tito menambahkan, aksi itu sangat kental bermuatan politis. Polisi tidak akan segan mengambil tindakan tegas jika sampai berpotensi mengganggu ketertiban umum. (Sumber: Kompas.com, Sabtu, 19 November 2016, 15:19 WIB).

Lebih ‘menyeramkan’ lagi, Kapolri Jenderal Tito mencium adanya agenda makar dalam rencana demonstrasi lanjutan 212 itu. Tito juga akan melarang aksi itu agar ketertiban umum tidak terganggu.

Ia menyatakan hal itu di Lobi Gedung Utama Mabes Polri, Jl Trunjoyo, Kebayoran Baru, Senin (21/11/2016). Turut hadir dalam kesempatan itu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Ada upaya tersembunyi dari beberapa kelompok yang ingin masuk ke DPR dan berusaha untuk dalam tanda petik menguasai DPR. Aksi ini bagi kami dan Bapak Panglima sudah diatur dalam Undang-undang mulai 104 sampai 107 dan lain-lain dilarang. Itulah perbuatan kalau bermaksud menguasai DPR maka itu melanggar hukum. Kalau itu bermaksud menggulingkan pemerintah itu ada pasal makar. Oleh karena itu, kita akan melakukan pencegahan dengan memperkuat gedung DPR MPR. Sekaligus juga confirm rencana-rencana konsolidasi pengamanan. Kita akan lakukan tindakan tegas dan terukur sesuai aturan undang-undang. Kita akan tegakkan hukum, baik yang melakukan maupun yang menggerakkan.

Pernyataan selanjutnya, “Menyikapi tanggal 2 Desember. Ada sejumlah elemen melakukan penyebaran pers rilis. Akan ada kegiatan yang disebut Bela Islam Ketiga. Itu dalam bentuk gelar sajadah, Salat Jumat di Jalan MH Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, dan serta Bundaran HI. Kita sampaikan di sini bahwa kegiatan tersebut diatur pada Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998, penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak kontitusi dari warga. Namun tidak bersifat absolut”. (Sumber : Detik.com Senin 21 Nov 2016, 13:48 WIB).
Pernyataan Kapolri itu dikritisi oleh Anggota DPR RI, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jazuli Juwaini, yang meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk berhati-hati dan tidak gegabah menyikapi rencana demonstrasi pada 2 Desember 2016. Terlebih lagi, jika demo itu dikaitkan dengan isu adanya makar atau penggulingan pemerintahan.

Dikatakan Jazuli, bila Kapolri salah mengambil keputusan bisa fatal akibatnya bagi stabilitas politik dan keamanan. Bahkan, perjalanan bangsa ke depan.

“Kapolri tidak boleh gegabah mengaitkan demonstrasi yang akan digelar dengan makar. Ini tuduhan serius. Pengaitan tersebut hendaknya berdasarkan informasi intelejen yang akurat dan objektif,” ujar Jazuli kepada Okezone, Rabu (23/11/2016).

Sebagai lembaga penegak hukum, Jazuli menilai tuduhan adanya makar harus dibuktikan. Jika terbukti, harus dilanjutkan dengan proses hukum sehingga tak menimbulkan keresahan publik.

“Polri adalah lembaga penegak hukum, bukan lembaga politik. Tuduhan makar harus bisa diproses dan dibuktikan agar tidak menimbulkan keresahan publik. Jika tidak, tuduhan itu bisa politis dan liar  serta memecah belah masyarakat,” sambungya.

Anggota Komisi I ini berpendapat penyampaian aspirasi di depan umum dilindungi konstitusi. Polri, lanjut Jazuli hendaknya dapat membedakan antara penyampaian pendapat di muka umum dengan tindakan makar.

“Penyampaian pendapat di muka umum jelas dilindungi Konstitusi. Saya berharap sumber intelejen akurat dan objektif agar tidak salah dalam mengambil keputusan dan langkah,” jelasnya. (Sumber : okezone.com, Rabu, 23 November 2016 – 11:01 wib).

Habib dan Makar

Berkaitan dengan isu makar itu, Pengurus Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pun bersilaturahim ke kantor MUI Pusat di Jl Proklamasi, Jakarta, Selasa (22/11/2016), terkait Aksi Bela Islam III.

Dalam pertemuan itu, kata Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas, Pembina GNPF MUI menegaskan tidak ada makar dalam Aksi Bela Islam III yang rencananya digelar Jumat (2/12/2016) atau 212.

Dijelaskan, kegiatan Aksi Super Damai 212 itu berupa shalat Jumat dan doa bersama yang dilaksanakan di sepanjang jalan protokol Jl Sudirman-Jl MH Thamrin. Aksi tidak mengarah ke Istana maupun gedung MPR/DPR RI.

“Habib menegaskan hanya akan menggelar aksi yang bernuansa ibadah, seperti dzikir dan sebagainya,” ujar Anwar kepada wartawan di kantor MUI, Selasa siang (22/11/2016) beberapa waktu usai pertemuan dengan GNPF MUI. (Sumber : Hidayatullah, Rabu, 23 November 2016 – 08:15 WIB).

Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI), Habib Rizieq Shihab pun menegaskan bahwa akan tetap melakukan demo 2 Desember atau aksi 212 meski dilarang Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Hal tersebut ditegaskan Habib Rizieq usai diperiksa sebagai saksi ahli kasus penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Bareskrim Polri, Rabu (23/11/2016).

Menurut Habib Rizieq, tanggal 2 Desember merupakan unjuk rasa yang dilindungi UU nomor 9 tahun 1998. Karena itu, siapa pun tidak boleh melarang atau menghalangi demo 212 yang sudah dijamin UU, termasuk Presiden Jokowi.

Habib Rizieq mengatakan, dalam pasal 18 ayat 1 dan 2 UU nomor 9 tahun 1998 disebutkan, barang siapa menghalangi atau menghadang unjuk rasa damai dengan kekerasan, yang dilindungi UU itu dipidana 1 tahun penjara.

“Jadi kalau Presiden atau Kapolri atau siapapun mencoba untuk mengahalangi unjuk rasa damai yang sudah dijamin UU nomor 9 tahun 1998 tersebut, maka beliau-beliau bisa dipidana 1 tahun penjara,” tegas Habib Rizieq.

“Jadi sekali lagi, aksi 212 adalah aksi unjuk rasa yang dilindungi dan dijamin oleh Undang-undang. Tujuannya tetap sama, yakni tahan Ahok karena Ahok menistakan agama,” tegas Habib Rizieq.

Habib Rizieq meminta kepada semua pihak, mulai dari presiden sampai jajarannya untuk menghargai konstitusi dan membolehkan demo 2 Desember atau aksi 212. (sumber : Pojoksatu.id, Rabu, 23 November 2016 | 21:19 WIB).

Habib Rizieq juga memberikan alasan dan pengalamannya, pada Aksi 411, ternyata di Masjid Istiqlal yang memiliki ruang besar dan parkiran luas sebagai Masjid Negara, tidak muat menampung jutaan umat Islam dan tidak juga memiliki persediaan air yang cukup. Sehingga banyak umat yang tidak bisa berwudhu dan banyak pula yang tidak bisa sujud saat Shalat.

Dan yang paling berbahaya ujarnya, adalah saat usai ibadah Jum’at, ratusan ribu manusia berdesakan keluar masjid melalui tangga dan pintu keluar yang menyempit, dan di luar masjid berhimpitan lagi dengan ratusan ribu manusia lainnya yang berdesakan menuju pintu gerbang. Sehingga banyak jama’ah yang jatuh dan terinjak, serta ada yang terluka dan ada juga yang pingsan.

“Itulah sebabnya Aksi 212 tidak lagi jadikan Istiqlal sebagai titik kumpul jutaan umat Islam, karena bisa membahayakan keselamatan nyawa peserta Aksi,” tegas Habib Rizieq, seperti disebutkan eramuslim.com.

Itu pula sebabnya GNPF MUI memutuskan Bundaran HI sebagai titik kumpul Aksi 212. Karena Bundaran HI memiliki sayap jalan ke kanan dan ke kiri yang terbentang sangat luas dari Jembatan Semanggi hingga Patung Kuda.

Ruangnya terbuka bebas tanpa pintu yang menyempit, dan di setiap perempatan jalan semakin luas terbuka, sehingga jutaan umat Islam terhindar dari desakan dan himpitan yang membahayakan nyawa.

Posisi Sudirman–HI–Thamrin juga jauh dari Lambang Negara, yaitu Istana dan DPR RI. Sehingga jauh dari tuduhan provokasi makar.

Soal hukum shalat Jum’at di jalan protokol perkotaan atau pedesaan pun menurutnya adalah boleh.

Dalam Mazhab Imam Asy-Syafi’i pendapat yang terkuat adalah boleh, sebagaimana dinyatakan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab Juz 4 halaman 51.

Dalam Sejarah Islam, pada Tahun 1453 H, Sultan Muhammad Al-Fatih saat masuk ke Kota Konstatinopel, menggelar Shalat Jum’at bersama para Ulama dan Umara serta Rakyatnya dengan panjang Shaff 4 Km terbentang dari Pantai Marmara hingga selat Golden Horn.

Soal Provokasi? Menurut Habib, justru jika jutaan Umat Islam jelar sajadah dan duduk di atasnya dengan keadaan memiliki wudhu, lalu shalat dan baca Al-Quran, serta berdzikir dan berdoa, juga mendengar khutbah dan tausiyah para habaib dan ulama sepanjang pagi hingga sore hari. Maka akan sulit sekali diprovokasi, bahkan jika ada provokator sangat mudah terdeteksi.

“Posisi duduk sambil ibadah sangat sulit diprovokasi oleh siapa pun,“ ujarnya.

Soal Ketertiban Umum? Menurut Habib, ini kembali kepada kebijakan Pemerintah. Tidak sulit untuk jadikan hari Aksi 212 sebagai hari kibur dan jalan protokol bisa dikosongkan dari kendaraan sebagaimana Car Free Day, kecuali untuk mobil ambulan dan logistik serta keamanan yang akan melayani peserta aksi.

Pemeritah sendiri tiap tahun selalu menggelar Peringatan Tahun Baru dengan menutup Jalan Protokol Sudirman Thamrin. Bahkan pemerintah pernah gelar Festival Budaya dengan membuat 16 panggung musik dan hiburan sepanjang Sudiman–Thamrin.

Soal Keamanan? Juga justru di ruang terbuka sepanjang Sudirman – Thamrin lebih mudah diawasi dan dimonitor serta dikontrol, baik secara manual maupun dengan CCTV dan Drone.

Dan tiap gedung sepanjang jalan Sudiman–Thamrin dijaga dengan ketat tapi tetap bersahabat oleh TNI dan POLRI serta Laskar.

Dengan demikian, baik peserta aksi maupun petugas, juga masyarakat merasa aman, termasuk para pemilik dan penggguna gedung-gedung perhotelan dan perkantoran sepanjang jalan protokol.

Soal Kesehatan? Justru sepanjang Sudirman–Thamrin mobil-mobil ambulan dan logistik serta keamanan bisa disediakan jalur khusus, sehingga mobilisasinya dalam membantu peserta aksi lebih lancar.

Soal kenyamanan juga terjamin, maka para peserta aksi 212 akan lebih nyaman. Apalagi sepanjang Sudirman–Thamrin banyak ruas jalan menuju pemukiman. Sehingga warga sekitar bisa membantu para peserta aksi yang banyak datang dari luar daerah.

Demikian juga soal petugas TNI & POLRI bisa berbaur akrab dan bersahabat dengan seluruh peserta aksi. Sehingga tetap bisa menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjaga keamanan dan ketertiban secara bersama-sama.

Komunikasi dan Kesepakatan

Menurut Habib Rizieq, jika pemerintah mempunyai inisiatif lain, mestinya pemerintah membuka komunikasi dengan GNPF MUI untuk mencari solusi. Bukan melakukan penyesatan opini dan penggembosan di sana-sini, hingga memfitnah makar.

“Silahkan membuka komunikasi dan duduk bersama diskusi. Jika ada pilihan lebih baik, kenapa tidak. Bagi GNPF MUI yang terpenting solusi apa pun harus mampu menjamin keselamatan jiwa para Peserta Aksi 212.

Jaga Aksi Damai 212 agar Tenang dan Senang, serta Aman dan Nyaman”, ujar Habib.

Dan, akhirnya memang kemudian GNPF MUI dan Kapolri bersepakat bahwa Aksi Bela Islam III pada Jumat 2 Desember 2016 akan dipusatkan di lapangan Monas, Jakarta. Aksi tersebut meliputi doa bersama, dzikir, tauziah dan sholat Jumat berjamaah yang akan menjadi Imam dan Khatib adalah Ketua MUI KH Ma’ruf Amin.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor MUI, Senin (28/11/2016) kedua belah yang hadir juga menyepakati lima poin terkait Aksi Bela Islam III 212 Super Damai.

Berikut lima poin kesepakatan tersebut :

  1. GNPF MUI dan Polri sepakat bahwa Aksi Bela Islam III tetap akan digelar pada Jumat 2 Desember 2016 dalam bentuk aksi unjuk rasa yang super damai berupa aksi ibadah gelar sajadah untuk salat Jumat. Akan tetapi tanpa merubah tuntutan aksi 212, yaitu tegakkan hukum yang berkeadilan dan target kami tetap, agar penista agama ditahan.
  2. GNPF MUI dan Polri juga telah sepakat bahwa Aksi Bela Islam III akan digelar dengan dizkir dan doa keselamatan negeri dari jam 8 pagi sampai usai salat Jumat.
  3. GNPF MUI dan Polri sepakat, usat salat Jumat para pimpinan GNPF MUI akan menyapa di sepanjang jalan sekaligus melepas mereka pulang dengan tertib.
  4. GNPF MUI sepakat dengan Polri tentang perlunya dibentuk tim terpadu antara Satgas GNPF MUI dengan Polri untuk mengatur teknis pelaksanaan. Tim terpadu juga mengatur mengenai peserta aksi dari luar agama Islam.
  5. Jika ada gerakan pada tanggal 2 Desember 2016 di luar kesepakatan yang sudah dibuat antara GNPF MUI dan Polri, maka gerakan tersebut dipastikan bukan bagian dari GNPF MUI. Polri dipersilakan menggunakan hak dan kewenangannya mengambil tindakan yang diperlukan. (Sumber : Senin, 28 Safar 1438 H / 28 November 2016 06:00 WIB).

Dan, Aksi Bela Islam III 212 pun diagendakan di sepuyatan monas, dengan khatib Ketua Umum MUI Dr. KH Ma’ruf Amin. Beberapa ulama dan jamaahnya pun siap hadir di tempat itu, seperti Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansur, A’a Gym, dan sebagainya.

Bahkan rombongan kaum Muslimin dari daerah pun berdatangan ke Jakarta. Seperti disebutkan okezone.com, bahwa ribuan umat Islam dari Ciamis, Jawa Barat, melakukan aksi jalan kaki (longmarch) menuju Jakarta, Senin (28/11/2016), untuk mengikuti unjuk rasa Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016. Menempuh jarak lebih dari 300 km.

Aksi ini dilakukan menyusul tidak adanya fasilitas bus yang mengangkut mereka dalam demonstrasi tersebut. Masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen organisasi Islam dan para santri se-Kabupaten Ciamis itu berkumpul di Masjid Agung Ciamis.

Pimpinan Pesantren Al Hasan Ciamis, Ustad Syarif Hasan yang ikut serta dalam rombongan mengatakan, pihaknya memilih tetap berjalan kaki karena masih siap dan kuat untuk berjalan kaki. Selain itu, mereka tidak ingin mengecewakan masyarakat yang ingin bersilaturahim.

“Masih siap dan kuat jalan kaki, kedua banyak masyarakat yang mau silaturahim di sepanjang jalan. Saya tidak mau buat kecewa,” ujarnya kepada Republika.co.id saat berjalan di depan Rumah Sakit Al Ihsan, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Kamis (1/12/2016).

Aksi riyadhah longmarch dalam jarak lebih pendek juga dilakukan umat Muslimin dari Banten, Bogor, Depok dan Jakarta Utara menuju lokasi Monas pada 212.

Mengetahui hal itu, Habib Rizieq menegaskan, bahwa gerakan sebesar itu bukan dilakukan karena ormas maupun partai politik tertentu. Karena itu dilakukan lintas organisasi dan lintas partai, berbagai kalangan, jabatan dan kebhinnekaan yang menyatu.

“Yang menggerakkan adalah tatbiqun Rabbani. Taqthiqun Ilahi. Panggilan Ilahi. Allah yang menggerakkan hati hamba-hambaNya di seluruh Indonesia untuk membela kesucian kitab suciNya,” kata Habib Rizieq.

Semoga Sejuk dan Barokah

Ustadz KH Arifin Ilham pun melantunkan harapan: “Damai para peserta aksinya, pakaian putih, berwudhu, membawa sajadah. Damai tempatnya di Monas, nyaman untuk menyimak. Damai waktunya dari 07 30 – sholat jum’at. Damai suasananya, sejuk, bersih, santun dan beradab. Damai tawshiyahnya, yang membuat cinta pada Kalam-Nya, bukan orasi yg cenderung kasar dan menghujat.

Damai juru da’wahnya, dg bahasa penuh hikmah menyentuh dan menyadarkan tetapi juga membangkitkan selera taat. Damai susunan acara, dimulai tawshiyah, zikir, doa dan sholat jum’at. Damai dg aparat di lapangan bahkan bersamaTNI POLRI untuk menjaga dari provokasi. Damai endingnya, pulang dg tertib, aman dan selamat.

Damai hasilnya menjadi buah bibir, betapa indahnya ajaran Islam itu, betapa mulianya akhlak umat Islam itu, jutaan umat turun aksi bisa damai, hebat!.

Ayo sahabatku, keluargaku mari kita hadiri, banjiri Aksi Super Damai ini dengan niat semata mata lillahi demi membela Al-Qur’an-Nya.

“Ingat sahabatku! Hari ini kita bela Al-Qur’an, nanti di alam kubur Al-Qur’an menjadi penerang kita. Hari ini kita bela Al-Qur’an, kelak di akhirat Al-Qur’an pembela kita.

Allahumma ya Allah berkahi harakah da’wah kami, selamat kaum muslimin muslimat terutama saudara saudara kami yg tertindas, dan berkahilah negeri kami tercinta Indonesia…aamiin.” (afta)

 

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.