Aksi 212 Dibandingkan dengan Penaklukan Konstantinopel

621

Aksi Damai 212 yang melibatkan jutaan umat Islam di kawasan Monas dan sekitarnya, Jumat (2/12/2016) menuai pujian banyak pihak.

Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan tekad jutaan orang yang menuntut tersangka penista Alquran, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, segera ditahan dan dihukum berat.

Selain berdoa dan berzikir, mereka juga mendengarkan tausiah bernas dan menyejukkan dari ulama AA Gym.

Begitu masuk waktu shalat, jutaan muslim yang ikut aksi dengan khusyuk menunaikan shalat Jumat berjamaah di bawah guyuran hujan.

Ini merupakan shalat Jumat terakbar dan terbanyak jamaahnya dalam sejarah dunia, karena diikuti jutaan umat.

Banyak pula pihak yang memuji aksi Bela Islami jilid III ini sebagai aksi yang sangat islami, tertib, dan tanpa meninggalkan sampah.

Sampai-sampai komentator di sejumlah televisi nasional tadi malam menyebut Aksi Superdamai itu sebagai aksi yang supertertib.

Keesokan harinya, seluruh media massa cetak di Indonesia mengangkat foto lautan manusia ini sebagai foto utama (master) di halaman 1.

Para pengguna media sosial pun banyak yang kemudian membanding- bandingkan serta mengait-ngaitkan aksi ini dengan kisah penaklukan kota Konstaninopel oleh Sultan Muhammad Alfatih.

Satu hal yang banyak diperbandingkan dari kedua peristiwa ini (Aksi 212 dan penaklukan Konstantinopel) adalah mengenai jumlah orang yang mengikuti shalat Jumat.

Pengaitan kedua peristiwa ini sebenarnya berawal dari adanya fatwa dari sebuah organisasi massa Islam yang menyatakan shalat Jumat di jalanan adalah perbuatan bid’ah.

Lalu muncullah meme yang memasang foto ilustrasi Sultan Muhammad Alfatih disertai kalimat:

“Tahukah Anda? Sholat Jumat termegah dan terpanjang pernah terjadi pada tahun 1453 dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath.

Termegah karena sholat itu dilakukan di jalan menuju konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara.

Sholat jumat tesebut terjadi 1.5 KM di depan benteng Konstantinopel, dalam proses Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan yang kemudian mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium dan menjadi cikal bakal kekhalifahan Usmaniyah.”

Penelusuran Serambinews.com dari berbagai sumber di internet, Sultan Muhammad Alfatih yang adalah seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur.

Ia mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun.

Keberadaan Muhammad Al-Fatih ini pun telah diprediksi oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu’ setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di ‘Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).

Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tentaranya.

Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Nama tersebut kemudian diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul.

Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.(*)

Sumber : Tribun News

BAGIKAN
Ali Farkhan Tsani, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Quran dan Al-Hadits Yayasan Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI) - Bogor. Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Media online dengan tiga bahasa Ind, Arab, Ingggris). Dapat Dihubungi melalui WA: 082221427842 atau email: [email protected]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.